Owner Rizs Florist, Richa Amalia

Owner Rizs Florist, Richa Amalia

Richa Amalia: Merangkai Kreativitas Lewat Bunga Hingga Merintis Sociopreneur

Aku tuh nggak bisa yang rebahan lama-lama.

Rabu, 10 Maret 2021 | 12:50 WIB - Sosok
Penulis: - . Editor: Ririn

Richa Amalia bisa dibilang memiliki kisah sukses dalam perjalanannya meniti karier wirausaha. Gadis berusia 22 tahun ini menyimpan sisi lain yang tak banyak dilihat orang. Seperti apakah resep rahasia dibalik kesuksesan bisnisnya "Rizs Florist" miliknya?

Rebut Berbagai Prestasi

Richa Amalia yang kerap disapa Richa ini berasal dari Kabupaten Demak Jawa Tengah. Setelah lulus dari MAN 1 Semarang sembari mondok di pesantren, saat ini Richa mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Diponegoro.

Tumbuh dari ketertarikannya jadi pewara, membaca puisi dan pidato, serta public speaking pada umumnya, Richa mulai aktif berorganisasi sejak SMP dengan mengikuti OSIS. Kemudian melanjutkan dengan aktif di tiga organisasi sekaligus yaitu Paskibra, Pramuka dan PMR saat SMA. "Emang aku orangnya nggak bisa diem," tutur Richa, jadi alasan yang begitu simpel.

BERITA TERKAIT:
Richa Amalia: Merangkai Kreativitas Lewat Bunga Hingga Merintis Sociopreneur
Maslikhatin: Antara Guru dan Menjahit Impian Generasi Qurani
Mulyo Budi Setiawan, Jadi Dosen dan Pengalaman Keliling Indonesia
Kunci Sukses Berta Tekuni Dunia Ekonomi
Prof Ridwan Sanjaya: dari Keingintahuan hingga Bertahan
Kevin Ferdinand, Mahasiswa Nyambi Jadi Driver Ojol
Adat, Antara Bangkit dari Keterpurukan dan Raih Cita-Cita

Saat menjalani perkuliahan di program studi sarjana Antropologi Sosial di Universitas Diponegoro Richa berhasil meraih berbagai beasiswa. Beberapa diantaranya ia manfaatkan untuk mengembangkan bisnisnya. Seperti beasiswa mahasiswa berprestasi yang digelar oleh BEM Universitas Diponegoro, dan beasiswa PPA.

Di tahun 2019 Richa berhasil meraih beasiswa khusus mahasiswa pejuang wirausaha yakni Entrepreneur Development Scholarship for Youth (ENVOY). Ia belajar dari banyak mahasiswa penggelut wirausaha yang menemui permasalahan serupa, dan mendalami banyak pembelajaran dari pelatihan-pelatihan yang disediakan.

Kegiatan sosial dan pengabdian juga tak luput mengisi kesibukan Richa. Pada tahun 2018 ia mengikuti program kerelawanan alias volunteering di Lombok Nusa Tenggara Barat. Ia mengunjungi daerah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal) dan membantu pengembangan ekonomi kreatif di daerah tersebut. Richa juga mengikuti program Mbangun Ndeso untuk mengabdi di bidang ekonomi kreatif di Magelang.

Di sela-sela waktu luangnya Richa menyempatkan untuk menciptakan program bernama YECI (Youth Empowerment Center of Indonesia) yang ditampilkan saat mendaftarkan diri di program Bakti Nusa. Sayangnya, ia belum berhasil lolos seleksi beasiswa tersebut.

Ia juga sempat mengikuti lomba dengan tema memaksimalkan ekonomi kreatif di era industri 4.0 di Universitas Brawijaya Malang yang bertingkat internasional. Malaysia jadi destinasi lomba selanjutnya pada tahun 2019. Di sana ia berkompetisi dengan tema seputar UMKM dan membawa inovasi EPQ (Economic Product Quantity) yaitu sebuah aplikasi untuk memaksimalkan produksi UMKM kecil.

Pada tengah-tengah tahun 2019 sampai 2020 Richa mengambil magang dan bekerja di Duanyam. Perusahaan ini adalah gerakan socio-entrepreneur yang memberdayakan perempuan di Flores Nusa Tenggara Timur untuk berkarya dan membantu memasarkannya ke seluruh dunia.

Awalnya Jadi Reseller

Richa mengaku mulai menyukai dunia bisnis sejak kelas 2 SMA. Kala itu ia membutuhkan uang tambahan untuk jajan kala harus belajar di pesantren.

Passion Richa untuk berwirausaha mulai muncul saat seorang kawannya yang reseller sandal gunung meminta tolong untuk mempromosikan usahanya. Setelah beberapa lama nge-share dagangan temannya itu, Richa merasa sempat kesal karena banyak orang-orang yang menghubunginya dan menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Mengira ialah yang menjual dagangan itu.

"Ada temen aku tuh nanyain itu harganya berapa, akhirnya aku jelasin tuh ada kontaknya yang bisa dihubungin," katanya. Setelah jemarinya lelah menjawab satu demi satu pesan tanpa mendatangkan keuntungan, ia malah terpancing membuka pasar miliknya sendiri. "Kenapa nggak aku aja yang jualan," lanjutnya.

Sandal Eiger jadi barang pertama yang ia jual. Kemudian berlanjut, Richa mulai menjajakan berbagai barang-barang yang sekiranya diminati teman-teman dekatnya. "Setiap aku ada barang-barang lucu, barang-barang gemes gitu temenku selalu nanya, 'Cha, itu beli di mana?' Aku selalu jawab itu beli di aku," tutur Richa. Ia tak pernah melewatkan setiap kesempatan untuk menghasilkan uang dari kegiatannya sehari-hari.

Setelah itu Richa mulai menjual barang lainnya. Mulai dari cheese cake, sampai ponsel merek apa saja. Toko pertamanya ia namai "Think Shop".

Waktu berkuliah jadi peluang yang besar bagi Richa. Bahkan saat baru saja diterima di Universitas Diponegoro ia mencoba menjajakan starter kit mahasiswa baru berupa kemeja putih, bawahan hitam, dan segala pernak-pernik yang dibutuhkan. "Ternyata itu prospek banget, dan aku udah bisa ngebaca itu sebelum masuk," ujarnya.

UKM Research and Business (RnB) di Universitas Diponegoro jadi organisasi pertama yang diikuti Richa saat berkuliah. Di sana ia terinspirasi dari anggota lain serta banyak alumni yang sudah memiliki perusahaan sendiri. "Pokoknya aku pengen punya brand sendiri," tuturnya. Akhirnya ia bertemu dengan beberapa kawan yang memiliki passion yang sama dan mendirikan "Rizs Choco", menjajakan cokelat yang bisa dihias sesuka hati pemesannya. Karena mengikuti momen yang pas saat hari kasih sayang ia juga menjajal menjual rangkaian bunga sepaket dengan cokelat Valentine tadi.

 

Momen hari kasih sayang cepat berlalu. Usahanya berubah menjadi "Rizs Florist" saat pelanggan tak lagi banyak memesan cokelat. Ia pun fokus menjajakan rangkaian bunga saja.

Selama bisnis itu berdiri dari awal tahun 2017 Richa mengaku sering mengalami pasang surut. Namun ia tak pernah berhenti menggelutinya hingga sekarang.

Berbagai rintangan pernah ditemui. Ada salah satu pemesan yang mengajak COD (cash on delivery) yang berniat menipu dan tak datang di lokasi janjian. Kala itu Rizs Florist sempat beberapa kali merugi akibat pesanan fiktif serupa.

Pada akhirnya tahun 2020 Rizs Florist menemui tantangan saat harus bertahan di masa pandemi Covid-19. Pesanan bunga menurun drastis dan acara seremonial besar seperti wisuda batal digelar di kampus-kampus. Hal ini membuatnya memutar otak dan mengevaluasi.

Saat ini Rizs Florist sedang sibuk memberikan lokakarya yang digelar terbatas maupun secara daring bagi masyarakat yang berminat berlatih merangkai bunga.

Richa dan para partnernya juga mulai mempertanyakan manfaat sosial yang dapat diberikan ke masyarakat. "Dari dulu tuh kita pengen jadi socio-entrepreneur. Tapi sampai saat ini kok belum nemu nih. Mana social-nya?" tanya Richa pada dirinya sendiri.

Akhirnya saat ini ia membentuk sebuah situs untuk Rizs Florist yang terintegrasi dengan petani bunga dan toko-toko bunga kecil yang diajak kerjasama. Menurut Richa selama pandemi ini banyak petani yang terpuruk. Bahkan bunga-bunga yang tak laku harus jadi pakan ternak. Situs ini diharapkan akan menghubungkan pembeli dan penjual bunga di seluruh daerah di Indonesia. Sekaligus dapat mempermudah petani-petani untuk menjajakan bunga dari kebun-kebun mereka.

Richa selalu punya cita-cita untuk memiliki bisnis sendiri di bidang social entrepreneur. Selain menghasilkan uang, ia ingin usaha yang dimilikinya memiliki nilai lebih dan bermanfaat bagi masyarakat. Orang yang paling menginspirasinya di bidang itu adalah dr Gamal Albinsaid yang ditemuinya saat mengikuti sebuah seminar. Ia seorang dokter yang rela memberikan pengobatan kepada masyarakat dengan berbayar menggunakan sampah, yang disebut Klinik Asuransi Sampah. "Ih seru banget ya ternyata social entrepreneur," curhatnya.

Sampai saat ini Rizs Florist telah membawa Richa untuk mandiri secara finansial. Dari tahun 2019 ia sudah bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Ia juga mulai merintis bisnis baru Moca Modest dan Moca Kitchen bersama rekannya.

Paling Nggak Bisa Rebahan

Saking padatnya kegiatan Richa saat ditanya apa yang dilakukannya saat waktu luang, ia menjawab, "Kalo orang-orang kan me-time nya kaya rebahan, mungkin nonton netflix seharian di kamar. Aku tuh nggak bisa yang rebahan lama-lama." Sebisa mungkin Richa akan melakukan kegiatan yang produktif. Ia juga lebih memilih untuk mengisi ulang energinya seharian dengan ngobrol dan kumpul dengan teman-teman. "Itu tuh me time aku," lanjutnya.

"Kayanya nggak ada kata mager deh buat aku," curhat Richa. Hanya terkadang saja ia memberikan self-award dalam bentuk perawatan diri atau belanja. Travelling juga jadi pilihannya. Tempat-tempat seperti museum, galeri, pop-up store, atau bazar UMKM. Tak hanya di Semarang saja ia juga sering mengunjungi acara serupa di kota-kota lain. Kegiatan ini jadi jurus jitu Richa untuk mengumpulkan inspirasi.

Richa seakan tak pernah berhenti mengembangkan diri. Saat ini ia sedang menjalankan challenge untuk membaca satu buku dalam satu bulan. "Start with Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action" adalah buku yang sedang dilahapnya.

Baginya pengembangan diri jadi nomor satu. Pengalaman dan jaringan adalah privilege yang berguna untuk masa depan. "Jangan ragu buat ikut seminar-seminar, ikut ngobrol maupun sharing. Setiap orang, setiap tempat itu adalah tempat belajar," pungkasnya.

*Tulisan di atas dibuat oleh Forsaria Prastika, reporter magang KUASAKATACOM.
 


tags: #sosok #richa amalia #wirausaha

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI