Founder SJB dan FKUI Hj Siti Juriah TP, SE

Founder SJB dan FKUI Hj Siti Juriah TP, SE

Bunda Jujuk: dari Bangkrut hingga Sedekah Tiap Hari (2)

Akhirnya ia menjadi satu wujud berbeda dari dulu yang selalu mengejar dunia.

Jumat, 20 Agustus 2021 | 12:34 WIB - Sosok
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

Seorang dosen bisnis di Universitas 17 Agustus Semarang, peraih gelar dosen teladan tingkat nasional, dan bisnis woman, tentu dalam pikirannya adalah bagaimana mendapat untung dari usahanya. Tapi kini Bunda Jujuk, begitu panggilan akrabnya, hanya ingin hidup bermanfaat bagi orang lain. 

Sejak subuh, wanita dengan enam anak dan sembilan cucu ini sudah membagikan nasi untuk warga tak mampu, bertajuk gerobak sedekah subuh. Padahal, ia telah kehilangan harta kekayaannya. Perusahaan besarnya yang bergerak di bidang properti, elektronik, kereta, mobil, dan segala jenis usaha lainnya terjual untuk membayar utang. Termasuk 10 mobil dan tujuh rumahnya.

Lantas, dari mana uang untuk membantu sesama ini yang rutin dilakukan setiap hari? Sebelum menuju ke situ, pemilik nama asli Hj Siti Juriah Purwanti ini mengaku dulu bisnisnya yang padahal untung tapi bangkrut hingga menyebabkan utang Rp4 M itu disebabkan oleh riba. Semua aset ia jual, tapi utang masih tersisa Rp2 M. 

BERITA TERKAIT:
Bunda Jujuk: Pondok Quran dan Rumah Singgah An Nasr Gratis untuk Siapa Saja (3)-selesai
Bunda Jujuk: dari Bangkrut hingga Sedekah Tiap Hari (2)
Bunda Jujuk: Perjalanan Menemukan Tuhan (1)

"Akhirnya kami mencari jalan, karena jalan dunia rasanya tak akan mungkin, akhirnya kami ketemu dengan wisata hati, pimpinan Ustaz Yusuf Mansur. Saat itu ada di Gergaji, kami mengaji di situ. Selama kurang lebih tiga tahun kami mengabdikan diri," ujar Bunda Jujuk.

Di sana, Bunda Jujuk mulai mengenal ilmu-ilmu salah satunya bahwa manusia tidak bisa selalu menggantungkan diri kepada orang lain. Sementara dahulu ia selalu menggantungkan modal dari pinjaman, kemudian apa-apa mesti dari kekuatan manusia. Hingga akhirnya ia diajarkan bahwa kekuatan manusia adalah dari Allah. 

"Saya mulai bisa mengenal Allah. Saya mulai bisa menjalankan ketaatan kepada Allah dengan pimpinan ustaz-ustaz di wisata hati," tukasnya.

Episode berikutnya, ia benar-benar pasrah terhadap utang Rp2 M ini. Ia yang sudah tak memiliki apa-apa dan benar-benar mengabdikan diri di wisata hati sebagai relawan. Hal tersebut justru membuatnya semakin tenang, senang, dan bahagia walau masih memiliki utang yang banyak. Ia pun menjadi dekat sekali dengan Allah. Di wisata hati, ia mengaku diajarkan yang namanya tujuh pilar dan minus 10 dosa besar yang tak boleh dijalani. 

Tujuh pilar yang dimaksud adalah salat berjemaah, membaca Alquran, salat tahajud, salat duha, puasa sunnah, zikir dan berdoa, serta sedekah. Sementara sepuluh dosa besar penghalang rezeki yakni syirik, meninggalkan salat, durhaka kepada kedua orang tua, zina, rezeki haram, berjudi, rezeki haram atau memabukkan, memutus tali silaturahmi, kikir, dan ghibah.

"Padahal kami melakukan semua 10 dosa besar ini. Makanya sesuai dengan firman Allah, barangsiapa yang tidak taat, selalu melanggar ketentuan Allah, ya sudah pasti jadinya remuk. Saya menyadari itu, kami berupaya untuk tidak mengecewakan Allah lagi. Kami berusaha mengejar ketinggalan kami ke Allah dengan mengerjakan tujuh pilar," bebernya. 

 

Akhirnya, ia menjadi satu wujud yang beda. Dulu selalu mengejar dunia. Sekarang mulai calling down atau mengejar akhiratnya. Ia benar-benar bertaubat, meninggalkan larangan Allah. 

Dirasa cukup, ia sudah mulai mandiri dari wisata hati dan mendirikan Komunitas Sedekah Jumat Berjamaah atau SJB. Hingga banyak jemaah yang ikut meramaikan. Tak hanya itu, banyak orang turut menyumbang untuk kelancaran sedekah rutin ini. "SJB jalan sekitar 2013, kami jadikan ini semacam holding, satu lembaga dakwah fahwa SJB ini ternyata bisa menarik minat orang untuk bisa bersedekah," tukasnya.

SJB ini pun berkembang. Ibarat universitas, SJB kini memiliki tiga fakultas. Pertama adalah forum komunikasi peduli napi (FKPN) dengan visi misi mempedulikan napi yang notabene kata orang "tidak baik" agar menjadi baik. Bunda Jujuk masuk dari Lapas ke Lapas. Saya memberikan satu motivasi kajian, bahwa hidup ini milik kita. Kebahagiaan di depan ini milik kita. Allah tak akan memandang siapa pun. 

"Asal Anda bertaubat dan mau untuk kembali ke Allah, niscaya pasti bisa. FKPN ini berkembang, kami sudah memiliki 30 Lapas se-Indonesia, sampai ke Bali, Jakarta. Di Jateng sudah hampir semua dimasuki. Sampai saya sekarang dijuluki sebagai Dosen Lapas. Dibandingkan mengajar mahasiswa, saya lebih bahagia ngajar napi walaupun secara dunia kami tidak dibayar," bebernya.

Tak hanya itu, Bunda Jujuk sekarang memiliki Pondok Quran dan Rumah Singgah Penggaron Ungaran. Keduanya dipakai untuk mereka yang tidak diterima masyarakat dan ingin kembali ke Allah dan mengaji. Rumah yang bisa dipakai untuk menenangkan jiwa. Namun sekarang tak hanya didiami oleh para napi, tapi kebanyakan para pengutang, kreditur yang sudah mulai dikejar-kejar debt collector. “Mereka di sana agar hatinya tentram dulu. Mengabdi kepada Allah dahulu dengan gerakan-gerakan kami,” katanya.

Gerakan yang kedua adalah forum peduli masyarakat marjinal atau FPMM. Yang termasuk dalam FPMM adalah gerobak sedekah subuh, centelah sedekah subuh, makan gratis setiap hari, makan di pondok gratis, dan menyantuni duafa di waktu subuh, semuanya setiap hari. “Forum ini untuk kaum miskin, resort, panti jompo, anak terlantas, WTS (wanita tuna susila), gelandangan, dan lain sebagainya. Kemudian warga yang terkena gusur, terkena abrasi laut, orang tak bisa makan,” jelasnya.

Kemudian fakultas yang ketiga, yang ia sebut paling aneh, yaitu forum komunikasi umroh Indonesia (FKUI). Tujuannya untuk mengedukasi para jemaah di 100 hari sebelum berangkat untuk memberikan pemahaman bahwa umroh tidak mesti harus orang kaya. Umroh itu orang miskin juga bisa, asal paham ilmunya.

Di sini, para jemaah belajar tentang bagaimana baitullah dan Allah memanggil kita. Tak usah pakai uang. Kita usaha saja pakai ilmu langit atau ilmu Allah. “Insyaallah kita bisa umroh. Kami ini terkenal dengan mengumrohkan orang duafa, sopir becak, tukang pijat, PRT yang notabene tak bisa umroh. Tapi kalau bisa belajar di tempat kami di Pondok Quran ini, insyaallah bisa terangkat. dan sudah banyak, ribuan sudah berangkat lewat kita,” jelasnya.

Sayangnya, ia mengaku masih banyak yang tak percaya kepada pihaknya. Dikira mengada-ada. Markas besar SJB ada di Jalan Nakula Raya No 8 Ungaran, sedangkan gerobak sedekah ada di Jalan Pattimura. 


tags: #bunda jujuk

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI