Tebar Senyuman Lewat Sepakbola

Emir meninggalkan karier sepakbolanya di Negara Pizza  untuk fokus terhadap pendidikannya dahulu.

Senin, 11 Oktober 2021 | 09:33 WIB - Sosok
Penulis: - . Editor: Ririn

Emir Eranoto Dipasena, pemain bola muda Indonesia yang sukses di kancah internasional. Mantan kapten San Marco Juventina pada divisi enam liga Italia tersebut juga memiliki keinginan berkarier di bidang jurnalisme olahraga. Banyak halang rintang yang harus ia lalui hingga sukses berkarier di benua biru. Pesepakbola asal Jakarta tersebut pun memiliki ketertarikan  terhadap fotografi,  fashion, gaya hidup, dan bahasa asing.

Tidak banyak orang tahu bahwa latar belakang keluarga Emir merupakan kalangan akademik. Ibu Emir merupakan kepala sekolah di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Kedua orang tua Emir sama-sama merupakan lulusan S2 dari University of New Hampshire. Sementara kakak Emir seorang lulusan Fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Bisa dibilang hanya Emir saja yang bergelut di bidang olahraga. Walaupun berasal dari latar belakang keluarga yang akademik, orang tua Emir tetap membebaskan anak-anaknya untuk memilih bidangnya masing-masing.

Emir, sapaan akrabnya memulai karier sepakbolanya di umur 10 tahun dengan mengikuti Sekolah Sepak Bola (SSB) di Jakarta selama dua tahun, lalu berlanjut di Akademi Asiop Apacinti selama tiga tahun. Ia sempat bermain di Bali United U-16 tahun 2016, lalu FC Barcelona Academy tahun 2017, ISM Academy Italia 2018-2019, San Marco Juventina (6th division Liga Italia) 2019- 2020, dan yang terakhir Antalyaspor pada 2020 akhir hingga 2021 awal.

BERITA TERKAIT:
Dulu untuk Pasar Malam, Lapangan Bulukan Kini Jadi Arena Sepakbola Full Fasilitas
Hampir 100 Pemain Sepakbola Afghanistan Kini Berada di Qatar
Tebar Senyuman Lewat Sepakbola
Gibran Beri Bocoran Jadwal Pelaksanaan Piala Walikota Solo 2021
Punggawa Persis Solo Rindu Teriakan Pasoepati
Meratapi Ketidakadilan dalam Sepakbola
Indonesia Kalah 0-4 Lawan Vietnam, Netizen: Percuma Pakai Pelatih Top!

“Alasan saya milih sepakbola sebenernya simpel banget, hanya karena menurut saya sepakbola itu adalah sebuah permainan sederhana yang di mana jika dimainkan dengan benar (menang) itu kita bisa membuat ratusan ribu, bahkan jutaan orang bahagia hanya karena sebuah gol,” ujar Emir.

Namun bukan berarti semua yang ia lalui dalam dunia sepakbola berjalan dengan mulus. Banyak tantangan yang harus ia lalui, salah satunya yakni ia kudu pintar memastikan keberimbangan antar pendidikan dan kariernya di sepak bola.

Pada tahun 2017, Emir berkesempatan diterima di Academy Barcelona di Australia, namun keadaan tak berpihak padanya. Ia harus rela melepas kesempatan tersebut sebab mempersiapkan Ujian Nasional (UN) SMA. Tapi, ia tak berhenti di situ dan terus berlatih untuk merumput di Betawi FC pada liga tiga Indonesia.

“Saya bekerja keras di tim tersebut. Latihan jam 16.00 setiap hari senin saya usahakan datang meskipun sekolah saya baru selesai jam 15.40. alhamdulillah di bulan Desember tahun 2017, saya mendapatkan tawaran dari pelatih Betawi FC untuk di perkenalkan dengan pelatih yang berasal dari Italia,”

Bersama ayahnya, Emir mendatangi sang pelatih dari Italia di Sentul, Bogor. Pertemuan tersebut menjadi awal kariernya di Benua Eropa. Kedua orang tua Emir pun sangat mendukung tekadnya. Selain itu, ia memutuskan untuk tidak mengikuti jalur seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

“Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengikuti sama sekali tes masuk PTN karena fokus hanya untuk ke Italia. Saya juga sempat berlatih terlebih dahulu di Bandung sebelum saya berangkat ke Italia kurang lebih selama enam bulan. Saya mengasah skill berbahasa Italia saya di Instituto Italiano di Cultura (IIC),” jelas Emir.

Emir mengaku les bahasa Italia dua kali dalam seminggu. Setiap pertemuan kurang lebih menghabiskan waktu selama dua jam.

 

“Ketika teman-teman saya yang lain sibuk memikirkan ke mana mereka ingin melanjutkan studi nya di jenjang universitas, saya dan keluarga malah sedang fokus untuk mengurusi visa, tempat tinggal, dan keahlian saya dalam memasak. Karena bisa diingat mungkin itu adalah pertama kalinya saya akan merantau kurang lebih 10.000 KM yang jauh dari orang tua. Alhamdulillah it pays off. Saya menjadi pribadi yang lebih baik dan juga memiliki segudang pengalaman di Eropa,” tuturnya.

Tak hanya jago bermain bola, Emir memiliki ketertarikan di bidang fotografi, fashion, gaya hidup, dan bahasa asing. Ia menyukai fotografi karena menurutnya fotografi merupakan elemen yang penting dan sering digunakan.

“Menurut saya fotografi itu salah satu elemen sangat penting di mana sering digunakan sebagai memori. Saat kita lihat salah satu foto, kita bisa langsung ingat dimana lokasinya dan kondisi waktu itu seperti apa. Serta emosi orang bisa terlihat entah dia lagi happy, nangis, dan lain-lain,” ujarnya.

Sebagai seorang atlet, ia merasa bahwa harus tampil beda. “Gatau kenapa saya suka aja dan juga menurut saya semua atlet should have a good sense of style karena dilihat banyak orang, kan, semua lifestyle nya gitu,” ucap Emir.

Sementara untuk style sehari-hai, ia berpatok pada style salah satu pesepakbola yang tersohor yakni David Beckham atau Hector Bellerin. Selain itu, Emir yang sudah dua tahun berada di Italia pun akhirnya bisa menguasai bahasa Italia. Berkat ketelatenanya dalam bermain bola, ia pun dapat berbicara bahasa Italia di saat pertandingan dan latihan.

Emir memutuskan untuk memilih jurusan Sastra Inggris karena ia menemukan passion-nya dalam belajar bahasa Inggris sewaktu berada di Italia.

“Saya memilih sastra Inggris Undip karena dengan itu saya ingin merintis karier di bidang jurnalisme olahraga di media internaisonal. Jadi pemain bola ada umur kariernya, kalau sudah abis baru deh jadi jurnalis olahraga di international media company, karena dengan begitu saya masih bisa berkutat di sekitar bidang olahraga serta bisa menemui beberapa superstar di cabang olahraga nya masing-masing,” kata Emir.

Ia juga meninggalkan karier sepakbolanya di Negara Pizza  untuk fokus terhadap pendidikannya dahulu, namun ia tidak lantas begitu saja meninggalkan dunia sepak bolanya. Emir masih menggeluti sepak bola dengan mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sepak bola di kampusnya.

Tak dapat dipungkiri jika pandemi kali ini mengurangi intensitas aktivitas di luar. Begitu pun dengan Emir yang memili untuk tidak kemana-mana. Ia pun memutuskan untuk berlatih tinju agar meningkatkan fisik dan fokusnya.

*Profil di atas ditulis oleh reporter magang KUASAKATACOM Lala


tags: #sepakbola #sosok #emir eranoto dipasena

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI