Sosok Girindra Putri Dewi Saraswati, Dosen Muda Bahasa Inggris UNNES

Sosok Girindra Putri Dewi Saraswati, Dosen Muda Bahasa Inggris UNNES

Girindra Putri Dewi Saraswati: Mengajar Mahasiswa Adalah Pekerjaan Menantang

Keinginan Girindra untuk menjadi dosen, berawal ketika dirinya bercita-cita ingin mempunyai pekerjaan yang tak hanya ia sukai, tetapi juga bisa mengeksplor berbagai macam hal.

Senin, 21 Maret 2022 | 12:14 WIB - Sosok
Penulis: - . Editor: Wis

GIRINDRA Putri Dewi Saraswati, SPd, MA, atau yang akrab disapa Bu Girindra oleh para mahasiswanya itu merupakan seorang dosen muda yang mengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Awal karir Girindra menjadi dosen dimulai setelah lulus dari S2 University of Nottingham pada 2014 lalu.

BERITA TERKAIT:
Tim Dosen PKM FE USM Berikan Sosialiasi UU HPP kepada 13 Pelaku Usaha Mikro di Kota Semarang
Tim Dosen Unika Kembangkan Mesin Pengering Tenaga Surya untuk Petani di Kelurahan Jatirejo Semarang 
Girindra Putri Dewi Saraswati: Mengajar Mahasiswa Adalah Pekerjaan Menantang
Polisi Selidiki Kasus Dosen yang Ditemukan Tewas Gantung Diri
Dosen USM Saiful Hadi: Program Kampus Mengajar Dinilai Berhasil dan Berdampak Positif

Saat itu, ia diterima di UNDIP sebagai dosen luar biasa, yakni dosen yang mengajar mata kuliah Bahasa Inggris untuk mahasiswa non-Bahasa Inggris.

Satu tahun kemudian, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Wadiyo dan Malarsih ini pindah ke Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan status dosen kontrak.

Girindra mengatakan jurusan tersebut merupakan tempatnya menimba ilmu dan menyelesaikan gelar Sarjana pada 2008 hingga 2012 silam.

Statusnya sebagai dosen kontrak akhirnya beralih menjadi dosen tetap pada tahun 2019.

Pada tahun yang sama, Girindra menikah dengan Muhammad Zaenudin dan kini pasangan itu telah dikaruniai seorang putri berusia dua tahun.

Keinginan Girindra untuk menjadi dosen, berawal ketika dirinya bercita-cita ingin mempunyai pekerjaan yang tak hanya ia sukai, tetapi juga bisa mengeksplor berbagai macam hal.

Selain itu, kedua orang tuanya, yakni Wadiyo dan Malarsih, juga berprofesi sebagai dosen turut berpengaruh terhadap keputusan wanita 32 tahun ini menjadi seorang dosen.

Menurut wanita kelahiran 19 Agusus 1990 ini, pekerjaan dosen bukan hanya mengajar mahasiswa tetapi juga sebagai 'wiraswasta' guru lantaran untuk mendapatkan penghasilan dan pengalaman lebih, seorang dosen bisa merangkap menjadi peneliti yang tentunya banyak memberikan manfaat.

Girindra mengaku bahwa dirinya tidak ingin terjebak pada rutinitas mengajar layaknya sebagian besar guru. 

"Artinya enggak cuma ngajar, ada research juga, terus ada pengabdian juga, bahkan di situ juga ada collaborative research, banyak hal sih," kata Girindra saat ditemui KUASAKATACOM di Kampus UNNES Sekaran.

Saat pertama kali menjadi dosen, wanita kelahiran Semarang ini mengungkapkan mengajar mahasiswa adalah pekerjaan menantang karena mereka sudah dewasa dan paham apa yang mereka inginkan, sehingga jika keinginan tersebut tidak terpenuhi, banyak dari mereka yang akan mengabaikan dosen

 

"Jadi di situ ada tantangan gimana sih caranya membuat mahasiswa itu termotivasi gitu, biar mau belajar," lanjutnya.

Selain itu, tantangan lain menurut Girindra adalah bukan hanya membuat mahasiswa paham terhadap apa yang diajarkannya, tetapi juga bagaimana membuat mereka tertarik dengan apa yang diajarkan dan termotivasi untuk mengeksplor lebih banyak materi.

Pencapaian Girindra yang membuatnya bangga, terutama selama menjadi dosen adalah ketika dirinya mendapat ajakan collaborative research dari universitas lain.

Saat ini, dirinya mengaku sedang melakukan collaborative research bersama salah satu dosen Universitas Indonesia. 

Lebih lanjut, dosen yang mengambil S2 program studi TESOL ini menyatakan ia senang ketika keahliannya digunakan oleh lembaga lain, seperti keahliannya menjadi penerjemah lisan atau interpreter. 

"Saya kan juga jadi juru bahasa atau interpreter di Provinsi Jawa Tengah, kadang ketika ada tamu kita jadi juru bahasa," sambungnya.

dosen asal Ungaran Kabupaten Semarang ini juga mengaku senang bahwa apa yang ia ajarkan di kelas tidak melulu apa yang didapatkannya dari buku, namun juga berdasarkan pengalaman pribadi.

"Yang bikin seneng ngajar mahasiswa itu mungkin ketika kita bisa ngasih contoh dan motivasi mahasiswa lewat apa yang kita kerjakan, bukan hanya yang kita baca dari buku," lanjut Girindra.

Karena berbagai pengalamannya sebagai interpreter, dosen muda ini lebih banyak mengajar mata kuliah yang berhubungan dengan speaking dan interpreting meskipun bidang sebenarnya adalah pengajaran Bahasa Inggris

Berdasarkan pengalamannya mengajar, Girindra mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang membuat dirinya sebagai dosen merasa sedih.

Hal tersebut yakni ketika mahasiswa menganggap kuliah hanya sebagai kewajiban, bukan kebutuhan; ketika mahasiswa menganggap dosen sebagai orang lain hingga sulit diajak berdiskusi dan lebih memilih mengingkapkan opini di media sosial; serta susahnya merangkul dan memotivasi mahasiswa, terlebih dengan sistem pembelajaran jarak jauh seperti sekarang ini. 

Selain aktivitas sebagai dosen dan interpreter, Girindra juga kerap didapuk menjadi MC berBahasa Inggris untuk seminar internasional yang digelar di UNNES maupun kampus lainnya.

"Ya paling di UNNES atau di universitas lain yang kita diminta. Di universitas lain juga kadang minta tolong untuk jadi MC international seminar," tuturnya.*

*Penulis: wartawan magang KUASAKATACOM Siti Muyassaroh


tags: #dosen #pendidikan bahasa inggris #unnes #sosok #bahasa inggris

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI