Jadi Petugas DAMKAR, Tomy Akmal "Bersahabat" dengan Bahaya

Tomy sendiri sudah 8 tahun melakoni profesinya sebagai petugas DAMKAR.

Selasa, 16 Mei 2023 | 18:33 WIB - Sosok
Penulis: Fauzi . Editor: Surya

Tomy Akmal merasa terpanggil untuk menjadi petugas pemadam kebakaran (Damkar). Hal tersebut yang membuat pemuda kelahiran Kota Semarang 1994 ini bergabung ke Damkar non ASN/pegawai kontrak di sektor Kota Semarang

Tomy mengaku sudah memahami segala resiko berprofesi sebagai petugas Damkar. Meski tergolong berbahaya, ia tetap mengambil resiko tersebut. Itulah yang Tomy sampaikan kepada reporter KUASAKATACOM.  

BERITA TERKAIT:
Gebyuran Bustaman, Tradisi yang Sempat Terhenti Kini Lestari Kembali
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, Pemkot Semarang Ajak Atasi Masalah Plastik Secara Produktif
Dugderan Tahun Ini Tak Ada Wahana Permainan, Pedagang Mengeluh Pengunjung Turun 
Pria di Semarang Apes! Uang Rp 15 Juta untuk Nikah malah Raib Digondol Admin Ngaku Shopee
Polisi Tangkap Dua Pelaku Pembacokan di Kartini Semarang 

"Banyak petugas yang terluka, bahkan baru beberapa hari kemarin teman saya terkena luka bakar di sebagian tubuh dan wajahnya ketika sedang memadamkan api. Tapi itu justru menjadi tantangan agar petugas lebih berhati-hati di samping usahanya untuk lekas memadamkan api," kata Tomy, Selasa (16/5/2023).

Sebenarnya cita-cita pemudia berusia 29 tahun ini ingin menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) atas pesan terakhir sang ayah sebelum meninggal dunia. Bahkan, dari kecil tidak pernah muncul dibenaknya bercita-cita menjadi Damkar. Akan tetapi, takdirlah yang mengarahkannya hingga menjadi petugas Damkar sampai detik ini. 

“Dulu tidak pernah angan-angan menjadi Damkar, justru dulu anehnya kalo ada kebakaran walaupun kecil saja saya malah takut. Jadi memang kuasa Allah Swt. Sesuatu yang kita inginkan belum tentu yang terbaik bagi kita, tapi sesuatu yang telah Allah Swt takdirkan pasti yang terbaik bagi kita,” kata Tomy.

Pandangan Tomy pada pekerjaanya

"Sebenarnya pekerjaan Damkar itu suatu pekerjaan yang mulia, jika ia benar-benar fokus membantu tanpa pamrih. Disaat orang itu menjauh dari api, ia justru malah mendekat ke api dan itu adalah panggilan jiwa”

Maka dari itu, pada 2015, tanpa dukungan keluarganya, pemuda yang hobinya kumpul majelis ta’lim (pengajian) ini pun mengikuti ujian masuk ke pemadam kebakaran. Kemudian di tahun 2016. ia mulai bekerja menjadi petugas Damkar.

"Kalau bisa menyelamatkan orang yang terjebak, itu jadi sesuatu yang membanggakan. Pernah saya masuk ke kubangan api, karena masih ada orang di dalam rumah yang terbakar. Saya berhasil menyelamatkan seorang di sana. Momen itu yang paling susah dilupakan," imbuhnya.

Tantangan terbesar baginya selama menjalankan tugas, yakni menghalau rasa takut ketika berhadapan dengan api besar atau saat mengevakuasi korban yang terjebak kebakaran.

"Sebagai manusia tentu ada rasa takut. Tetapi lama-lama jiwa ini sudah terbiasa menghadapi situasi-situasi sulit. Andai ada orang yang terjebak kebakaran, rasa tanggung jawab kami mengalahkan rasa takut. Akan tetapi, tantangan terbesarnya adalah kepada warga atau masyarakat karena terkadang keberadaan mereka pada waktu ada kebakaran bukanya menjauh tapi malah mengganggu petugas Damkar, takutnya mereka malah bisa terluka atau mungkin bisa terkena api," ujar Tomy.

Bertugas di Damkar, kata dia, kerja secara tim adalah sebuah keharusan. "Intinya kompak. Kita tidak bisa bekerja sendiri. Peran sesama petugas sangat penting. Jadi memang kita sudah seperti keluarga kalau di lapangan," ucapnya.

Sesuai namanya, tugas utama pemadam kebakaran adalah memadamkan api. Namun seiring perkembangan, tugas pemadam kebakaran makin meluas, yakni penyelamatan dan penanggulangan bencana. Karena cakupan 'penyelamatan' cukup luas, yang diselamatkan oleh petugas pemadam kebakaran sangat beragam. Yang paling umum adalah hewan liar seperti ular dari berbagai ukuran, Sarang tawon, hingga mengambil drone atau kucing yang tersangkut atau berada di atap rumah.

Tomy mengatakan, saat ini apapun masalahnya yang terkait dengan penyelamatan, warga pasti akan menelepon pemadam kebakaran. "Ada ular, ada apapun itu pasti mengadu ke kami, kalau ada sarang tawon itu pasti ke kami," sambungnya.

 

Sarang tawon yang dilaporkan warga biasanya sudah berukuran besar hingga berukuran helm. Bukan tawon yang ada madunya, namun tawon ganas yang siap menyengat siapapun yang mengganggu. Untuk menyiasatinya, saat memindahkan sarang tawon, petugas menurut Tomy harus mengenakan pakaian khusus yang menutup seluruh tubuh.

"Kayak baju astronot," katanya.

Hal yang aneh mungkin dan paling berkesan selama bekerja menjadi pemadam ialah ketika ada kebakaran seorang ibu memeluk erat anaknya, dan dalam keadaan sudah meninggal (gosong). Setelah dipisahkan justru organ dalam mereka pada keluar semua, itu salah satu hal yang aneh menurut Tomy dan gak bakal ia lupakan.

“Terkadang kebakaran itu terjadi saat momen-momen kayak gini (lebaran, puasa, malam takbir, dan waktu event pening lainnya. Nah, kebakaran yang terjadi biasanya ada yang disengaja dan ada yang tidak, kalo rumah itu biasanya 90 % murni, akan tetapi bila pabrik lebih cenderung disengaja biar dapet asuransi. Jika terjadi di pasar mungkin saja ada pedagang yang tidak terima digusur pemerintah sampai akhirnya nekat untuk membakar”. Pengakuanya

Tomy sendiri sudah 8 tahun melakoni profesinya saat ini. Pria 29 tahun itu sejak awal sudah siap menerima risiko. Bukan takut, ia malah bangga karena bisa membantu dan menyelamatkan warga yang kesulitan. Walaupun sebelumnya tidak ada dukungan sama sekali dari keluarganya, tapi tidak menyurutkan niat Tomy untuk semangat bekerja dengan ikhlas dan tanpa pamrih.

“Yang terpenting bekerja ikhlas tanpa pamrih dengan niat kalo bisa harus lillahi ta’ala, tanpa mengharapkan. Walaupun banyak lelah tapi karena lillah insyaallah berkah”. Jelas Tomy

Memang menjadi petugas Damkar itu bukan sesuatu yang ringan selain butuh mental fisik dan batin dalam melawan rasa takut serta keberanian. Namun ada hal yang berat ketika menjadi petugas Damkar, antara lain; jam kerja dan kurangnya hari libur, terlebih saat waktu lebaran. Selain itu, kurangnya perhatian dari pemerintah dari aspek kesejahteraan bagi pegawai non ASN. Bahkan THR lebaran saja tidak pernah ada. karena memang tidak ada peraturanya

Pengalaman menjadi petugas Damkar

“Kalau hal terburuknya sendiri Alhamdulillah tidak ada, yang terpenting hati-hati dan selalu jaga kondisi. Memang pekerjaan ini agak berat, tapi yang pertama adalah niatkan yang pertama adalah bekerja karena lillah tanpa mikir gaji, dan yang kedua ialah sisi positifnya bisa istiqomah dalam ibadah dan membagi waktu dan tanggung jawab lain,” ujarnya. 

Pria mantan ketua karang taruna Kelurahan/Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, ini selain bekerja menjadi petugas Damkar, ia juga meluangkan waktunya untuk mengajar ngaji anak-anak TPQ di masjid dekat rumahnya ketika ia tidak ada jadwal buat jaga sift sore atau malam. Hal ini ia lakukan sudah belasan tahun sebelum ia menjadi petugas Damkar hingga saat ini, karena ia berusaha untuk istiqomah.

“Kalo sisi negatifnya sendiri dikembalikan pada diri kita sendiri, kita kembalikan ke awal tadi niatnya kita bekerja adalah ibadah dan insya Allah kalo berkerja berfikirnya husnudzan (positif) karena berkah dan segalanya menjadi mudah”.

Dan ia mengaku ketika ia menyukuri apapun yang dia dapatkan Allah selalu memberikan jalan dengan komitmennya yaitu “jangan boros dan perbanyak nabung serta sedekanya”. Alhamdulillah ia selalu dicukupkan rizki dari Allah Swt. Ditambah dengan istiqamahnya dalam ibadah seperti menjaga sholat Dhuha, dzikir pagi dan petang, dan sholat malamnya serta mengamalkan sedikit ilmunya mengajar anak-anak TPQ (mengaji Al-Qur’an) di sela-sela kerjanya.

Pesan Tomy sebagai petugas Damkar

1.    Harus siap sedia di rumah apar / kain tebal
2.    Hindari memasang tralis agar bisa dibuka dengan mudah
3.   Tetap tenang saat terjadi kebakaran dan hubungi nomor Damkar (024113)
4.    Banyak orang yang tidak “Ngajeni” pemadam, seperti habis evakuasi ular, sarang tawon, dll. Minimal dirumati seperti diberikan air minum, karena pemadam itu membantu tanpa pamrih.

Menjadi petugas Damkar itu kerjanya All Out, kalo pemadaman jargonya “pantang pulang sebelum api padam”, dalam penyelamatan jargonya “Pantang pulang sebelum kegiatan tuntas” tapi dalam hal ini yang masuk akal sesuai tupoksinya (bukan hal yang receh) Seperti laporan 'nyeleneh'  yang pernah dilaporkan dan dimintakan bantuan oleh warga adalah pengambilan kucing diatas rumah, mengambil HP dalam got, dll.

Pesan terakhir Tomy, intinya “BEKERJA DINIATKAN IBADAH, INSYA ALLAH BERKAH”

***

tags: #kota semarang #damkar #tomy akmal

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI