menu kalap  | foto masia

menu kalap | foto masia

Kuy, Mencoba Kenikmatan Hitam Sebelum New Normal

Maaf, jika menu di sini membuat kita kalap.

Senin, 08 Juni 2020 | 09:34 WIB - Uji Rasa
Penulis: Prajna T Anala . Editor: Kuaka

KUASAKATACOM, SEMARANG - Puasa, sudah. Lebaran, hampir usai. Dan era baru masuk, new normal atau kenormalan baru. Banyak hal yang harus kita ubah, dan terutama cara kita memperlakukan prosedur bersih diri atau kesehatan. Tapi, untuk urusan perut, di masa menuju new normal ini pun harus berbeda. Setidaknya, memberi lidah kejutan-kejutan baru.

Itulah yang kami lakukan, belum lama ini. Setelah ''pening'' mencari resto yang buka dan tetap ketat dengan protokol kesehatan, kami lalu menuju resto yang pasti-pasti aja, yang kondang sebagai penyanyi gulai tercepat. Ya, mana lagi jika bukan gulai ikan pak untung. Mudah, gerainya ada di beberapa tempat, bersih dan cukup nyaman, dan tidak mahil-mahil amat. Jadi, kemonlah.

Kami menuju di gerai Singosari. Dan alhamdulillah, pas tidak terlalu ramai. Cocok untuk memanjakan lidah dengan tenang. Kami cukup hapal menu di sini. Tapi, selain yang biasa, aneka masakan ikan, kami juga mencari menu yang bisa membuat lidah merasakan hal baru. Apa ya? Aaa-ha! Satu menu memancing mata dan selera: menu kalap.

Melihat ukuran dan ragam lauk di tampah, layak jika dinamai menu kalap. Di tampah mini itu tersaji mulai cumi hitam, ikan, tempe-tahu, udang, suiran telur dadar, ayam, ca tauge, sambal dan seporsi nasi merah bertabur bawang goreng. Melihat tatanannya saja, mata sudah tersihir, tak beralih ke menu lain. Tapi membayangkan ukurannya, benar-benar butuh kekalapan untuk menghabiskannya.

Srimping Idaman

Hasilnya? Ternyata salah Saudara-saudara... Tak perlu energi besar untuk menghabiskan menu kalap ini. Udang yang makrenyes, dicocol sambal yang membuat mata mengerjap karena pedas-enaknya, plus ca tauge yang mangstaff, membuat suapan tak berhenti. Dari udang pindah ke cumi hitam, pindah ke suiran telur, beralih ke ayam, kok semua enak ya? Hahaha... Alhasil, beneran deh, kenikmatan ini membuat kekalapan muncul tanpa terduga. Habis-bis. Tandas-das.

Pujian layak diberikan untuk cumi hitam, lezat-zat, dan tidak terlalu kenyal. Tidak seperti menggigit karet, sebagaimana acap kita rasakan jika cumi terlalu lama dimasak. Ini lembut dan gurih. Sekali gigit, langsung terburai cumi, seperti tiada perlawanan. Lidah pun leluasa untuk meresapi ''kenikmatan hitam'' itu.

Udangnya? Ah, jika udang kan tidak perlu diapa-apain juga nikmat. Jadi tidak usah kita ceritakanlah. Kami juga memesan mujahir, yang digoreng kering dan kriuk banget, sampai duri disiripnya pun jadi hilang tak berbekas. Mungkin karena kami juga lapar ya. Es teh dan teh panas juga tidak kami ceritakanlah. Itu sama saja di mana-mana, hihihi...

Satu lagi, srimping. Kami coba saus padang dan asam manis. Dan, ini juga kelezatan yang membuat keringat di dahi bercucuran. Dengan cocolan sambal matah, srimping saus padang yang sudah pedas, jadi seperti mencakari lidah, pedas bingit tapi puas. Dicucupi teh panas manis, selesai semua. Enak tok.

Bagaimana dengan harga? Duh, jika makan ingin enak, jangan sesekali lihat harga. Karena, kalau makan enak itu, yang penting bukan harganya, tapi bagaimana membayarnya, hahaha. Dan cumi dengan kenikmatan hitam ini membuat kami ringan hati saja melepas beberapa lembar merah...

 


tags: #sambal matah #cumi #menu kalap # gulai ikan pak untung #lezat

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI