Sate Buntel (kiri), dan Gongso Daging Kambing (kanan)  salah satu sajian unggulan Tengkleng

Sate Buntel (kiri), dan Gongso Daging Kambing (kanan) salah satu sajian unggulan Tengkleng

Ingin Dekat Pelanggan, Tengkleng "Nyamleng" Buka di Pusat Kota

Olahan daging kambingnya sangat empuk, tidak alot, dengan bumbu gurih serta lezat. ‘Wis pokok e rasane tak ada tanding’ untuk masakan itu. 

Sabtu, 19 September 2020 | 17:10 WIB - Uji Rasa
Penulis: Holy . Editor: Wis

Tengkleng dan Sate Kambing "Nyamleng", mulai membuka cabang baru, di Jalan Tri Lomba Juang no 20, mulai Jumat (18/9/2020). Rumah makan yang sudah melegenda di Kota Semarang, Jawa Tengah itu berdiri sejak tahun 1997, sebelumnya rumah makan ini hanya berjualan secara kaki lima tepatnya di depan RSJ dr Amino Gondohutomo.

Saat ini Tengkleng “Nyamleng” telah menetap di Jalan Majapahit No 340  Semarang, Rumah makan dengan sajian daging kambing itu menyajikan berbagai menu, diantaranya seperti tengkleng, gongso iga kambing, sate kambing, sate buntel kambing dan tongseng.

Jumat (18/9/2020) kemarin rumah makan tersebut mencoba peruntungan dengan membuka cabang di pusat kota, berada persis diseberang GOR Tri Lomba Juang. Yang menarikTengkleng ‘Nyamleng’ di TLJ tersebut dikelola  pengusaha muda Abid Nyamleng (25 tahun). Meski masih muda namun Abid tetap mempertahankan tradisional Jawa, hal ini terwakili dari welcome drink yang sengaja dengan disajikannya Wedang Uwuh.

Saat ditemui tim KUASAKATACOM, Abid mengatakan pemilihan Wedang Uwuh sebagai welcome drink ini punya alasan, karena wedang ini dipercaya mampu membuat badan segar kembali setelah beraktivitas seharian.

Karena penasaran apakah ada beda rasa antara Tengkleng Nyamleng Majapahit dengan yang baru kami pun memesan salah satu menu unggulan di rumah makan ini yakni Gongso Iga Kambing dan Sate Buntel.

Proses pengolahan makanan tersebut tidak lah lama. Hanya berselang kurang dari 10 menit, makanan tersebut sudah siap di meja makan. Dengan penyajian yang menarik serta menggoda selera. 

Saatnya menyantap! Daging Gongso Kambing yang disajikan termasuk porsi jumbo. Istimewanya, seperti yang di Majapahit, olahan daging kambing tersebut sangat empuk, tidak alot, dengan bumbu gurih serta lezat. ‘Wis pokok e rasane tak ada tanding’ untuk masakan itu. 

Sambil menikmati lezatnya Daging Gongso, kami pun mncoba menu lainnya yakni Sate Buntel. Sate nya terliha padat penuh daging, jadi secara tampilan sate ini sangat menggemaskan. Karena dagingnya yang terlalu gemuk, sehingga dibutuhkan tiga tusuk sate.

Sate saat dikunyah, akan tersa daging sangat lembut dan cruchy, benar- benar nikmat.

Baik gongso daging kambing maupun sate buntel tak ada bau prengusnya. Semuanya sedap dan menggugah selera. Yang menarik dari Tengkleng “Nyamleng” semua masakannya tidak menggunakan jeroan maupun santan.

Abid "Nyamleng" bercerita awal mula perjalan rumah makan yang dirintis oleh kedua orang tuanya pada tahun 1997 silam. Kenekatan kedua orang tua Abid mendirikan warung tengkleng saat itu karena mengetahui belum ada satu pun rumah makan olahan asli Solo di Semarang.

Sebelum membuka warung makan, kedua orang tua Abid berguru memasak kepada ahlinya yakni Mbok Tentrem, yang merupakan salah seorang pemilik warung makan di Solo yang jadi langganan Presiden Kedua RI, Soeharto. Dari sanalah, akhirnya kedua orang tua Abid mampu menyajikan makanan daging kambing tanpa santan dan lezat.

"Kebetulan dua orang tua saya kan dari Solo. Bapak itu dari Kadipiro, ibu dari Sragen. Jadi dua-duanya menghendaki olahan tidak pakai santan," kenang dia.

Ia menyebut, ketika ada wisatawan dari Solo Raya wisata ke Semarang dan mampir ke warungnya, banyak yang merasa cocok.

Ketika disinggung mengenai mengapa tak ada jeroan, pria kelahiran tahun 1995 itu menjelaskan, karena memang sejak pertama kali berdiri, warung tersebut tak pernah menyediakan jeroan. Tak adanya jeroan itu karena sesuai dengan hidangan asli Solo.

"Beberapa orang itu banyak yang menghindari makanan sejenis tengkleng karena salah satunya terkait jeroan. Kalau di tempat kami tidak ada jeroan," tegas pria Alumni Fakultas Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang itu.

Saat disinggung tak adanya bau prengus dari daging, Abid memaparkan, hal itu karena ia menggunakan bumbu bumbu tradisional seperti jahe, kencur, laos dan lain-lain.

"Ini dulu pengolahan bumbunya perlu trial berulang kali," bebernya.

Abid menyatakan, rumah makannya memiliki dua menu andalan yaitu tengkleng dan gongso daging kambing. Tengkleng menjadi andalan karena memiliki kuah yang banyak dan segar. Sementara, gongso juga menjadi andalan karena ada perpaduan pedas dan manis. "Yang Tengkleng ini lumayan untuk anget-anget," kata Abid.

"Kalau gongsonya karena pedas manis dan porsinya jumbo," sambungnya.

Abid menjelaskan penggunaan kata "Nyamleng" berasal dari daerah Solo dan Jogja yang berarti "enak sekali" . Dengan merk Nyamleng itu, diharapkan pengunjung akan selalu ingat rumah makannya. "Ini kan Nyamleng nama yang unik ya. Jadi kami harap pengunjung bisa ingat warung ini," ujarnya.

Dijelaskannya, cabang baru di Jalan Trilomba Juang ini karena ia ingin mendekati para pelanggannya. Pasalnya, banyak karyawan perkantoran di sekitar wilayah tersebut merupakan pelanggan setia rumah makannya di Jalan Majapahit. Selain itu, ia juga ingin agar rumah makannya makin dikenal oleh warga Semarang khususnya yang berada di arah barat pusat kota Semarang.

"Jadi nanti pelanggan saya tidak perlu dari pucuk ke pucuk untuk menikmati menu kami," tandas Abid..

Sebagai promosi pembukaan, Abid mengatakan rumah makannya memberikan potongan sebesar 20% dari harga untuk pembelian dari Jumat hingga Minggu (20/9). Sedangkan potongan 10% berlaku untuk pembelian mulai Senin hingga Rabu (21-23/9).

Tengkleng “Nyamleng” buka di depan GOR Tri Lomba Juang, Semarang.

 

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI