RAGAM PIIHAN MENU | FOTO: LBL

RAGAM PIIHAN MENU | FOTO: LBL

Ayam Penyet Surabaya, Pas untuk Menegosiasikan Pedas

Dan di Ayam Penyet Surabaya kami menemukan menu yang pas untuk rasa syukur yang tak pernah lepas

Minggu, 07 Agustus 2022 | 10:41 WIB - Ujirasa
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

AYAM PENYET, barangkali, menu yang paling gampang dicari. Bukan hanya via aplikasi, sepanjang jalan pun, warung-warung yang menawarkan menu ini bertebaran. Dari yang sederhana, tenda atau warung seadanya, resto ruko, sampai resto besar dengan parkiran yang amat luas. Dengan variasi yang beragam juga. Baik itu variasi sambal, sampai topingnya, dari mangga sampai nanas muda, dari cabe merah, sampai kuning keriting, dan hijau. Atau lauknya, yang juga tersedia bebek, ikan, sampai burung-burungan.

Semua tentu enak.

BERITA TERKAIT:
INI DIA Warung Bebek Paling Enak di Sepanjang Jalan Durian Banyumanik Semarang
Ayam Penyet Surabaya, Pas untuk Menegosiasikan Pedas

Dan relatif terjangkau.

Cuma, toleransi pada pedas yang acap menghalanginya.

Nah, setelah menjajal beberapa ayam penyet, kami mencoba yang ada unsur daerahnya, Ayam Penyet Surabaya. Meski kami juga tahu, pemiliknya Wong Solo, hihihi

Maka, kami pun mampir ke Ayam Penyet Surabaya yang paling baru buka, di  Durian, Banyumanik. Sengaja juga kami pesan beberapa varian langsung. Dari ayam goreng dan panggang, ikan, juga mi goreng. Untuk minum, tak ada yang spesial. Tapi, untuk si kecil, kami pilihkan es lidah buaya.

Menunggu pesanan datang, kami melihat sekeliling.  Berada persis di samping masjid, bahkan berbagi parkiran, resto ini jadi tempat istirahat dan makan yang pas bagi mereka yang baru saja menunaikan Zuhur, sama seperti kami. Resto cukup luas, dengan meja yang tak berimpitan sehingga memberi kesan lapang. Ada juga lantai dua, di bagian tingkap, yang dapat menampung cukup banyak pelanggan.

Meski berada di jalan besar dan cukup ramai, resto ini tidak terasa ingar. Cukup tenang, dan juga adem. Mungkin karena setengah terbuka, dan dominan warna hijau, sehingga pengunjung seakan diayomi keteduhan. Memang membangun suasana makan yang menenangkan.

 

Bukan Buaya Senior
Pesanan datang. Kami pun mulai mencicipi. Pertama, kami coba sambalnya. Oke juga. tidak terlalu menyengat, seperti sambal Bu Sumo, tidak terlalu manis, seperti sambal Mas Budi, tidak juga tawar seperti sambal Cak Noris. Sambal barang/korek tidak terlalu berminyak, dan dan kepedasannya wajar. Gurihnya pun cukup, dengan pedar bawang putih yang terasa akrab menendangi lidah. Saya suka sambal ini. Dileletkan ke ikan, kriuk dan pedasnya memberi tarian yang lembut di lidah. Renyah.

Ayamnya juga juicy, terutama yang bakar. terlihat ayam tidak dipresto dulu, sehingga tidak moprol. Bagi kami, ayam yang terlalu lembut dan lunak, kehilangan ‘’keayamannya’’. Jadi daging gurih, begitu saja. Nah, di Penyet Surabaya ini, ayamnya tidak terlalu lunak, masih terasa tekstur dagingnya, keliatannya, dan itu membuat lidah menemukan teman yang cocok untuk berkelahi.

Dibandingkan dengan ayam goreng, kami memberi nilai lebih untuk ayam bakarnya.

Mi gorengnya juga oke. Kenyal, dan tidak mudah putus, dengan citarasa yang tidak terlalu gurih. Ini membuat mi tetap dapat dinikmati meski tanpa dicampur nasi. Beberapa mi yang pernah kami coba kadang terlalu pekat kegurihannya, sehingga membutuhkan nasi untuk menemaninya di mulut.

Namun, dari kesemua itu, kami justru menemukan satu toping yang paling nikmat. Apa karena sedikit ya, hahaha. Ya, bihunnya. Kenya sempurna, dengan borehan kecap yang cukup, juga irisan cabe hijau, yang kian memancing selera. Berkali ulang mencecap bihun, kami menemukan keistimewaanya, dan seharusnya bisa jadi menu tersendiri.

‘’Enak ini bihunnya, Pi. Adek suka deh,’’ kata si kecil, yang melahapi dengan semangat.

Si sulung lebih mengakui kerenyahan ikan, yang katanya, ‘’Garing sampai ke tulang. Kemriyuk banget, durinya pun renyah,’’ katanya.

Bagaimana dengan minumnya? Es lidah buaya?

‘’Tidak istimewa. Bukan buaya senior kali,’’ kata istri, sembari tertawa.

Okelah. Bagi kami, makanan itu tak ada yang tak enak. Hanya enak, enak banget, dan istimewa. Karena kami menyadari, tiap makanan yang kami beli, adalah bagian dari ucap syukur pada rezeki yang dapat kami nikmati. Dan di Ayam Penyet Surabaya kami menemukan menu yang pas untuk rasa syukur yang tak pernah lepas. Ciaooo…


tags: #ayam penyet surabaya #kuliner #kuliner semarangan #ujirasa #kuliner juara

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI