Warung Tumpang Koyor Mbah Rakinem yang adem dan tenang di Salatiga

Warung Tumpang Koyor Mbah Rakinem yang adem dan tenang di Salatiga

Memburu Rasa di Tumpang Koyor Mbah Rakinen Salatiga

Satu yang saya rasakan kali pertama menyuapkan nasi dan koyor ke mulut adalah  sensasi tumpang yang tebal. Rasa tempe yang ‘’dimalamkan’’ atau disangitkan itu menebal di lidah, sehingga kental dan dominan.

Senin, 04 Desember 2023 | 09:17 WIB - Ujirasa
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

‘’COBALAH tumpang koyor Mbah Rakinen, pasti jatuh suka,’’ kata seorang teman, melalui pesan Whatsapp, di pagi yang basah sehabis dicuci hujan ujung November. Sebuah pesan yang langsung membangkitkan kemruyuk di perut, membayangkan Sambal Tumpang yang pasti lezat bin enak binti nikmat.

Maka, kemonlah. Bersama beberapa kawan pemburu rasa, kami pun bergegas ke Salatiga. Hujan telah reda, pagi yang sembab pun membuat kami melandai saja ke sana. Tak sampai 1 jam dari Semarang, setelah sedikit salah gang, warung yang luas karena bersatu dengan rumah itu pun kami temukan.

BERITA TERKAIT:
Memburu Rasa di Tumpang Koyor Mbah Rakinen Salatiga
Kedai Kenari, Membuat Lidah Tak Henti Menari
Tahu Telur Kudus Nomor Dua di Semarang
Buka Tengah Malam, Tumpang Pecing Bu Wardi Membuat Susah Tidur
Makanan Khas Nusantara, dari Ketupat Jemb*t sampai Mi Penthil (2 - Habis)

Masih pukul 08.33, saat mata kami menangkap beberapa orang tengah bercanda beradu dengan denting sendok menyentuh piring. Beberapa ASN memang tampak tengah menikmati tumpang koyor Mbah Rakinem, menempati sisi kanan dari warung limasan itu. Warung yang ‘’menyamar’’ sebagai rumah tua itu memang meneduhkan bagi pecinta kuliner rumahan. Halaman yang luas dengan rumput rapi, pepohonan yang besar dengan bangku meja di bawahnya, menawarkan keteduhan. Warung ini seperti melambai-lambai dengan ramah, memberi aksentuasi bagi mereka yang memang rindu rumah.

Tulang Muda
Tak menunggu lama, pesanan kami datang. Saya mencoba langsung tawaran Mbak Wati, sang penjual, menjajal tumpang koyor plus tulang muda. Tentu lengkap dengan sayur dan tahunya. Saya memilih Sambal Tumpang yang tak terlalu banyak, sehingga tidak menjadi dominan.

Teman saya, Udin, memilih sebaliknya. Tanpa tulang muda, fokus pada koyor, dia memilih Sambal Tumpang yang membanjiri nasinya. ‘’Biar terasa betul bagaimana nikmatnya,’’ katanya, setengah serius setengah bercanda. Mungkin dia memang suka menu melimpah saja.

Ditemani teh tawar panas dan kerupuk karak, kami pun meriung di depan teras, sembari menatapi pengunjung yang datang dan pergi satu-satu. Di ujung utara, langit masih sembab. Hujan mungkin masih belum sempurna turun.

Satu yang saya rasakan kali pertama menyuapkan nasi dan koyor ke mulut adalah  sensasi tumpang yang tebal. Rasa tempe yang ‘’dimalamkan’’ atau disangitkan itu menebal di lidah, sehingga kental dan dominan. Dominasi itu pun terasa sampai pada tulang muda yang memang saya minta cukup banyak, sebanding dengan koyor. Ketika saya guyur mulut dengan teh tawar panas, dan saya cecapkan lidah, rasa tumpang itu tak sepenuhnya hilang. Masih tersisa di lidah.

 

‘’Kental banget ini sambal tumpangnya, tempenya pasti banyak,’’ nilai Yogyos, sahabat kami yang juga menikmati menu itu. ‘’Rasa tulang muda yang gurih jadi hilang disusupi rasa tumpang,’’ tambahnya.

Dia tak salah. Tumpang Mbah Rakinem ini memang tebal. Bagi pecinta tumpang yang suka rasa yang dominan banget, ini memang tempatnya. Cocok.

‘’Tempenya memang sengaja kami buat, tidak kami semangitkan, beda…’’ terang Mbak Wati.

Saya suka dengan penjelasannya, meneguhkan bahwa rasa yang tebal dan kental itu adalah pilihan. Dan melihat antusiasme pembeli, mungkin memang ketebalan rasa itu yang memikat konsumen.

Saya sendiri telah banyak mencoba Sambal Tumpang. Dan jika dibandingkan, ketebalan rasanya ini sebanding dengan Sambal Tumpang Pecing di Sragen yang melegenda itu, yang buka hanya setelah pukul 12.00 malam. Yang pembelinya mengular sehingga harus antre cukup lama.

Sambal Tumpang Mbah Rakinem juga memiliki ketebalan rasa yang nyaris sama dengan beberapa warung sejenis di Boyolali, atau Warung Tumpang Serasi di Bina Remaja Semarang.

Saya sendiri lebih dapat menikmati tumpang yang tipis saja, light, sehingga tidak dominan, memberi ruang pada rasa lain yang juga hadir dari sayuran dan atau lauk lain. Sehingga ketika dikunyah, yang hadir di lidah adalah keseruan rasa dari nikmat yang bersekutu.

Selain Sambal Tumpang yang dominan, Mbah Rakinem juga minim lauk lain. Hanya menyediakan Sambal Tumpang itu saja. Tidak ada gorengan, telur dadar, atau camilan lainnya. Sehingga jika ke sini, pilihan kita cuma lauk koyor atau tulang muda, atau memperbanyak tahunya.

Nah, bagi Anda yang suka tumpang koyor yang tebal di lidah, Mbah Rakinem cocok menjadi tujuan. Kenyamanan ala desa, ketenangan, dan apalagi jika sehabis hujan, akan menjadi santapan yang tak akan dilupakan, meski Sambal Tumpang sudah ludes berjam-jam.

***

tags: #kuliner legenda #kuliner juara #salatiga #makanan #sambal tumpang

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI