Dosen FISIP Undip yang juga merupakan tokoh NU, Dr. Drs. Muhammad Adnan, MA, (paling kiri) dalam Workshop Pendidikan

Dosen FISIP Undip yang juga merupakan tokoh NU, Dr. Drs. Muhammad Adnan, MA, (paling kiri) dalam Workshop Pendidikan

Radikalisme dan Terorisme Merusak Keutuhan Negara

Bahwa menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak dan generasi muda, menjadi hal yang sangat penting.

Jumat, 30 April 2021 | 23:19 WIB - Didaktika
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Semarang- Intoleransi, radikalisme, dan terorisme merusak keutuhan negara dan bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama. Hal itu disampaikan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang juga dosen FISIP Undip, Dr. Drs. Muhammad Adnan, MA, dalam Workshop Pendidikan "Sekolah Tempat Menyemai Nilai-Nilai Pancasila dan Penangkal radikalisme", di Hotel Novotel, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/4/2021). 

Workshop Pendidikan tersebut diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IKA FIB Undip, DPP IKA Undip bekerjasama dengan DPR RI dan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek.

BERITA TERKAIT:
Semakin Erat, Bank Jateng Kembali Jalin Kerjasama dengan UNS Surakarta
Terima Kunjungan dari Asahan, Bupati Kudus Sebut Miliki Akses Fasilitas Guru dan Sekolah Vokasi Mumpuni
Terkait Kesetaraan Pendidikan Perempuan, BKOW Jateng: Sangat Penting untuk Atasi Permasalahan
Radikalisme dan Terorisme Merusak Keutuhan Negara
OJK Regional 3 Dorong Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan Melalui Sektor Pendidikan

“Secara teoritis, kategori terorisme itu di samping Religiously motivated terror, juga political terror atau separatist. Jadi gerakan untuk memisahkan diri dari NKRI itu juga masuk kategori gerakan teroris, seperti Kelompok kriminal bersenjata atau KKB Papua. Pemerintah tidak perlu ragu menetapkan KKB Papua sebagai teroris,  di samping ada landasan teoritisnya, secara empiris separatis memang menebar teror ke masyarakat. Bukan hanya gerakan radikalisme, gerakan terorisme juga bisa merusak keutuhan negara" tegas Adnan. 

Oleh karena itu, Adnan menandaskan bahwa menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak dan generasi muda, menjadi hal yang sangat penting. Sehingga, tidak ada alasan menghapuskan pelajaran Pancasila dari SD, SMP dan SMA. Bahkan untuk perguruan tinggi juga sangat diperlukan mata kuliah Pancasila tersebut.

Sedangkan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek RI Jumeri, STP, MSi, mengatakan untuk mengubah nasib sebuah kaum ataupun sebagai manusia caranya adalah dengan Pendidikan. Hanya lewat pendidikanlah anak anak muda kita berubah nasibnya. "Jadi kita berharap Pendidikan bisa mengangkat anak anak kita yang lebih baik," kata Jumeri.

Keynote speaker dalam workshop tersebut, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti, SS, MM, menyatakan  sekolah memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter seorang anak. "Pembentukan karakter seorang anak bisa diperkenalkan lewat seni dan budaya. Bila kita belajar seni dan budaya, maka secara otomatis kita belajar Pancasila" katanya.

"Maka dari itu kita akan kawal terus agar pelajaran Bahasa Indonesia dan Pancasila, menjadi pelajaran wajib. Karena ketika kita mengenalkan Bahasa Indonesia, tentu kita akan mengenal budayanya. jadi bila Bahasa Indonesia dihilangkan maka akan menghambat pengenalan budaya kepada anak didik, apalagi bila Pancasila dihilangkan," tegas Ketua Umum DPP IKA FIB Undip.

Pembicara Workshop Wakil Ketua Umum DPP IKA Universitas Diponegoro Drs. Akhmad Muqowam mengapresiasi pelaksanaan Workshop yang dihadiri para guru SMP dan guru SMK di kota Semarang. Serta para alumni Undip tersebut, seperti Wakil Ketua DPRD Jateng Sukirman, S.S. dan Sekjen DPP IKA FIB Undip Dr. Teguh Hadi Prayitno, MM, M.Hum. MH, Direktur Alumni Undip Drs Mujid Farikhul Amin, M.Pd, Ketua Bidang Komunikasi IKA FIB Undip Gunawan Permadi, M.Si, Wakil Dekan FIB Dr. Alamsyah. 

"Pancasila hendaknya benar-bebar diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari" ujar Muqowam.

Workshop itu juga  menghadirkan narasumber  Kepala SMP Don Bosco Semarang dan moderator workshop  Ketua KPID Jawa Tengah Muhamad Aulia Assyahdin, SS,.
 


tags: #pendidikan #undip #agustina wilujeng #radikalisme #terorisme

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI