Alami Kemarau Panjang, Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa Sasar Warga Padas

kemarau panjang menyebabkan hasil panen jagungnya tak bagus. Hasilnya pun tak menentu.

Minggu, 02 Juni 2024 | 21:10 WIB - Ragam
Penulis: Issatul Haniah . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Grobogan - Sudah tiga bulan lamanya, hujan tak mengguyur tanah Padas, Grobogan. Sungai yang mulai kering hanya menyisakan bebatuan. Tanah bertekstur kering dan pecah-pecah. Ini menjadi malapetaka bagi para warga Padas yang mayoritas merupakan petani jagung. Salah satu petani jagung, Lawiyah (63), menjadi salah satu warga yang terdampak.

Pada Jumat, (31/5/2024), Tim Dompet Dhuafa, menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga jam untuk sampai di rumah Lawiyah. Kami berangkat dari Kota Semarang menggunakan mobil. Sesampainya di Desa Padas, kami berganti kendaraan bermotor. Sebab, kami harus melintasi sungai, ladang jagung, dan jalan penuh tanjakan bebatuan.

BERITA TERKAIT:
51 Warga Grobogan Teridentifikasi Terkena Penyakit Chikungunya
Bos Galian C Ilegal di Grobogan Tewas Tertimpa Longsoran
Pemuda di Grobogan Gorok Leher Sendiri Lantaran Sakit Tak Kunjung Sembuh 
Motif Pembunuhan Wanita Tukang Pijat, Kuasai Harta Korban karena Terjerat Utang 
Polisi Buru Pembunuh Wanita Tukang Pijat di Purwodadi, Diduga Lari ke Hutan di Toroh 

Saat perjalanan menuju rumah Lawiyah, Staf Layanan Program Dompet Dhuafa Cabang Jateng, Yusuf Amukhti, membagikan temuannya tentang Desa Padas yang terletak di Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Padas terindikasi menjadi salah satu desa 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Kondisi ini diperparah dengan datangnya musim kemarau yang sudah berjalan selama tiga bulan. Alhasil, Dompet Dhuafa menargetkan Desa Padas sebagai salah satu titik penerima distribusi daging kurban pada Iduladha 1445 H nanti.

Sesampainya di rumah Lawiyah, rasa lelah kami terbayar saat melihat rekah senyumnya. Tak lama, senyumnya hilang bersamaan dengan munculnya rasa khawatir pada dirinya. Ia bercerita, kemarau panjang menyebabkan hasil panen jagungnya tak bagus. Hasilnya pun tak menentu. Terlebih, Lawiyah tak dapat menikmati seratus persen dari hasil panennya. Ia harus mengirim setoran dikarenakan lahan yang biasa ia tanami jagung bukan milik pribadi, melainkan sewa atas Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perhutani).

“Untuk bertahan hidup, saya bertani dan mengirimnya (jagung) ke kota. Penghasilan saya bergantung dengan hasil panen dan itu nggak nentu. Tahun lalu saya gagal (panen), karena (tanaman jagung) dimakan ular. Tahun ini pun hasilnya tidak bagus karena (sedang) kemarau. Saya jadi sedih, anak saya yang harusnya kerja (di luar), jadi ikut bantu saya di sini, bantu ngarit atau bersih-bersih ladang,” terang Lawiyah dengan suara parau.

Untuk bertahan hidup, sehari-hari Lawiyah dan suami beserta dua anaknya mengonsumsi nasi berlaukkan daun singkong rebus. Sesekali ia memasak tahu dan tempe untuk memenuhi kebutuhan protein keluarganya. Perihal konsumsi daging, kata Lawiyah, nyaris tak pernah.

Pada Iduladha 1444 H, Dompet Dhuafa berhasil mendistribusikan daging hewan kurban ke desanya. Ia bercerita bahwa warga di desa tersebut tidak pernah ada yang mampu berkurban. Itu menjadi momen pertama dan terakhir kali ia mengonsumsi daging kambing.

“Seringnya masak daun singkong. Kalau punya uang saya beli tahu tempe. Kalau mau makan daging ayam, saya harus menabung dulu. Saya pernah makan daging kambing itu pertama kali saat Dompet Dhuafa mengirim daging kurban sampai desa ini. Itu tahun lalu. Matur nuwun Dompet Dhuafa ingkang sampun bantu kulo seneng dapet daging kurban (Terima kasih Dompet Dhuafa sudah bantu, saya senang dapat daging kurban),” tutur Lawiyah dengan mata berkaca-kaca.

Meski makan daging hanya dapat dirasakan sesekali dalam hidup Lawiyah, ia tetap bersyukur karena dapat bertahan hidup setiap harinya. Bersama Dompet Dhuafa, kurbanmu tersampaikan hingga pelosok negeri.

***

tags: #grobogan #kurban #kemarau #dompet dhuafa

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI